MEMBANGUN KEMBALI PEMIKIRAN PENDIDIKAN TAN MALAKA

No Comments
“Apa guna punya Ilmu tinggi kalau kita bisa membodohi mereka
Apa guna banyak Baca buku kalau mulut kita bungkam melulu (Rowo Mangun)”.

Hermansyah pada saat LDKM. 
Sutan ibrahim Tan Malaka lahir di pandan gandang suliki,sumatra Barat,pada 2 juni 1897 pandang gadang sebuah nagari di sumatra barat atau yang kita kenal dengan Tan Malaka merupakan pahlawan perjuangan kemerdekaan Bangsa indonesia yang di kenal tokoh revolusioner kiri yang militan,radikal,revolusioner dan tanpa kompromi.Sejak usia sekolah itu pula dia telah menunjukan kecerdasannya.Dalam hiruk pikuk perjuanganmya telah terjadi diskurus yang beragam tentang bagaimana alam pemirinya, konsep,metodelogi serta pemkiranya tentang pendidikan di langsungkan secara berbisik baik di tingkat akademik maupun kelompok kelompok kajian lainya.

Tan Malaka setelah 20 tahun mengembara dari satu negeri ke negeri lain yang di mulai dari sumatra barat,belanda,jerman,rusia dan negara-negara rusia dan masih banyak negara-negara lainya yang menjadi tempat peraduanya.Akan tetapi di rusialah di mulai proses penyamaian jiwa-jiwa pemberontakanya,radikal tentunya revolusionernya ketika hadir dan bertemu dengan tokoh rusia seperti stalin,engels ia hadir kongres kominter (Komunis internasional) perwakilan antaranegara-negara asia dan negara lainya -bahwa dia beranggapan bahwa para pejuang komunis harus bergabung pejuang pan-islamisme karena mereka mempunyai massa yang banyak dan potensi yang besar untuk mengusir kolonialisme.

Proses pendidikkan dalam pandangan Tan Malaka sebenarnya adalah praktek pembebasan dan proses penyadaran. Peserta didik dibebaskan untuk memahami kontradiksi sosial, politik, ekonomi, serta mengambil tindakan untuk melawan unsur-unsur yang menindas dari realitas tersebut. Proses kesdaran kritis adalah situasi dimana telah tercapainya ketidakpuasan sosial terhadap situasi hegemoni (kuasa) yang menindas atau dalam pandangan Antonio Gramsi adalah tentang counter hegemoni (kuasa) dan di situlah peran dari pendidikan untuk melawan kekuasaan yang mempertahankan status qua. Pendidikkan penyadaran seharusnya diarahkan untuk memberikkan kebebasan kepada peserta didik untuk berdialog, memilih untuk berdialog, memilih dan melihat fenomena tanpa kekuasaan. Pendidikkan tidak bisa dilepaskan dari kepentingan. Dan pendidikkan pembebasan kaum tertindas dimulai dan dijiwai oleh kedermawanan sejati, rasa kemanusiaan untuk menampilkan diri sebagai sebuah pendidikkan bagi seluruh umat manusia.Untuk itulah, kaum tertindas yang kalah tidak boleh berbalik menjadi penindas, tapi memulihkan kembali kemanusiaan keduannya.

Dengan demikian, tugas utama pendidikan sebenarnya mengantar peserta didik menjadi subyek.Untuk mencapai tujuan ini, proses yang ditempuh harus mengandaikan dua gerakkan ganda: meningkatkan kesadaran kritis peserta didik peserta didik sekaligus berupaya mentransformasikan struktur sosial yang menjadikan penindasan itu berlangsung. Sebab, kesadaran manusa itu berproses secara dialektis antara diri dan lingkungan. Ia punya potensi untuk berkembang dan mempengaruhi lingkungan, tetapi ia juga bisa dipengaruhi dan dibentuk oleh struktur sosial atau miliu tempat ia berkembang. Untuk itulah emansipasi dan trasendensi tingkat kesadaran itu harus melibatkan dua gerakkan ganda ini sekaligus. Paling tidak ada dua ciri orang tertindas. Pertama, mereka mereka aleanasi dari diri dan lingkungannya. Mereka tidak bisa menjadi subyek otonom, tetapi hanya mampu mengimitasi orang lain.Kedua, mereka merasa bodoh, tidak mengetahui apa-apa.Situasi pendidiakan terkini seperti it atau pandangan paulo freire bahwa hakikat dari pendidikan adanya consentisasi( penyadaran) yakni berawal kesadaran Magic,naif,kesadaran kritis hingga menuju kesadaran tranformatif pesserta didik.

Namun dalam praktenya bahwa pendidikannya telah kelihangan marwahnya sebagai alat untuk mentranformasikan dalam membangun kesadaran sosial dan kesadaran kritis peserta didik di karenakan praktet carut marut praktek pendidikan di lapangan mulai dari penganggaran pendidikan yang masih kurang,rendahnhya gaji guru, kesejahteraan guru kurang,kurangnya faslitas pendidikan hingga,liberalisasi dunia pendidikan dan tentunya ini menjadi bahan perbaikan bersama kita sebagai anak bangsa indonesia.

Makassar,24 September 2015
 
 Penulis : HERMANSYAH. ( Anggota Bidang Advokasi dan Humas HMJ PPKn FIS UNM)

back to top